KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

BAB I
PENDAHULUAN

Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran penting mempersiapkan murid untuk memiliki sumberdaya yang mampu bersaing secara nasional maupun global. Berbagai upaya sekolah lakukan agar murid memiliki sejumlah keahlian dan keterampilan sebagai bekal dalam memecahkan masalah kehidupan masa sekarang dan masa depan sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Kepala sekolah sebagai salah satu sumber daya dalam pengelola sekolah harus memiliki kemampuan dan kecakapan dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan dengan baik. Kepala sekolah merupakan sumber daya manusia yang menempati posisi utama, kedudukannya dalam pendidikan sebagai penentu suksesnya penyelenggaraan pendidikan secara menyeluruh.
Dalam organisasi sekolah, kepala sekolah merupakan kunci bagi pengembangan dan peningkatan mutu sekolah. Kepala sekolah adalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilaksanakan dalam organisasi sekolah. Kepala sekolah bukan hanya sekedar suatu posisi jabatan tetapi menuntut keahlian untuk melaksanakan tugas-tugasnya secara efekfit dan efisien.
Kepala sekolah dalam organisasi sekolah berfungsi dan bertugas sebagai leader, educator, manajer, administrator, dan supervisor (Depdikbud, 1997). Sebagai pemimpin, kepala sekolah harus dapat mewujudkan hubungan manusia yang harmonis dalam rangka membina dan mengembangkan kerjasama antar personal agar tercipta suasana kerja yang menyenangkan, aman dan penuh semangat sehingga semua personal dapat secara bersama-sama melaksanakan tugas dan tanggungjawab ke arah pencapaian tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisien. Selaku administrator kepala sekolah harus mampu merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengawasi seluruh kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di sekolahnya agar tujuan institusional dapat dicapai secara optimal. Selaku supervisor, kepala sekolah harus membina personal sekolah sehingga personal sekolah profesional dalam melaksanakan tugasnya. Keempat fungsi ini dalam pengelolaan sekolah pada hakikatnya tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Dengan fungsi dan tanggung jawab demikian, kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif atau prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.
Manajerial Kepala Sekolah sebagai bentuk operasional desentaralisasi pendidikan dalam memberikan wawasan baru terhadap sistem yang berjalan selama ini. Hal ini di harapkan dapat membawa dampak terhadap peningkatan efisiensi, efektifitas dan kinerja sekolah dengan menyediakan layanan pendidikan yang komperhensif dan tanggap tehadap kebutuhan masyarakat. Kepala sekolah selaku manajer mempunyai peranan penting dalam mengembangkan mutu pendidikan di sekolah. Sebagai manajer harus mempertimbangkan peran penting yang tidak hanya membuat pengaruh tetapi ia membina bawahan agar memiliki kemampuan dalam mengatur kinerjanya baik kemampuan manajerial maupun kemampuan tehnis.
Kemampuan manajerial kepala sekolah yang baik dalam mengkoordinasikan, menggerakan, dan menyerasikan penerapan fungsi-fungsi manajemen atau proses manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengontrolan, dan pengendalian. Setiap kepala sekolah pada sebuah sekolah mempunyai tujuan individu yang arif serta senantiasa memperhatikan adanya kesesuaian antara tujuan individu yang tidak jauh menyimpang dari aktivitas organisasi. Jika terjadi kesenjangan antara tujuan individu dan dengan tujuan organisasi, maka akan tercipta ketidakharmonisan  kerja.
Menurut Slamet (2000 : 50) kepala sekolah tangguh adalah kepala sekolah yang mempunyai karakteristik : (1) visi, misi, strategi, (2) kemampuan mengkoordinasikan dan menyerasikan sumber daya dengan tujuan, (3) kemampuan mengambil keputusan secara terampil, (4) toleransi terhadap perbedaan pada setiap orang, tetapi tidak toleran terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas, prestasi, standar dan nilai-nilai, (5) memobilisasi sumber daya, (6) menggunakan input manajemen, yaitu meliputi : tugas yang jelas, rencana yang rinci, program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana yang rinci, program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana,a turan yang jelas sebagai panutan untuk bertindak dan sistem pengendalian mutu yang efektif dan efisien, (8) menjalankan perannya sebagai manajer, memimpin, pendidik, wirausahawan, regulator, penyedia, pencipta iklim kerja, administrator, pembaharu dan pembangkit motivasi, (9) melaksankaan dimensi-dimenti tugas, proses lingkungan dan keterampilan personal, dan (10) menggalang team work yang cerdas dan kompak, (11) mendorong kegiatan-kegiatan yang kreatif, (12) menciptakan sekolah belajar, (13) menerapkan manajemen berbasis sekolah, (14) memusatkan perhatian pada pengelolaan belajar mengajar dan memberdayakan sekolah.
Menurut Caldwell and Spink(1988), strategi pengelolaan pendidikan yang mengedepankan kerja sama antara berbagai pihak yang dikenal dengan istilah the collaborative school management yang pada perkembangan selanjutnya menjadi model pengelolaan sekolah yang dinamakan school based management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
Pengelolaan sekolah akan selalu berkaitan erat dengan kualitas kepemimpinan kepala sekolah, maka dalam makalah ini akan membahas  kepemimpinan Kepala Sekolah dalam mengembangkan organisasi sekolah menjadi organisasi yang berkualitas dan memiliki mutu yang tinggi berdasarkan pada manajemen organisasi belajar dan MBS.










BAB II
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) DAN KEPEMIMPINAN

A.        Manajemen Berbasis Sekolah
Manajemen Berbasisi Sekolah (MBS) dapat dikatakan merupakan model pengelolaan pendidikan yang relatif baru bagi sekolah-sekolah di Indonesia. Model ini mulai diujicobakan tahun 1999/2000 pada 140 SMUN dan 248 SLTPN dan pada tahun 2000/2001 pada 486 SMUN dan 158 SLTPN yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia (Dikmenum, 2000: 3).
MBS berasal dari tiga kata, yaitu manajemen, berbasis, dan sekolah. Manajemen adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan atau untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Input manajemen terdiri dari tugas, rencana, program, limitasi yang terwujud dalam bentuk ketentuan-ketentuan, pengendalian (tindakan turun tangan), dan kesan dari anak buah ke atasannya).
Sedangkan Berbasis berarti “berdasarkan pada” atau “berfokuskan pada”. Sedangkan pengertian dari sekolah adalah suatu organisasi terbawah dalam jajaran Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang bertugas memberikan “bekal kemampuan dasar” kepada peserta didik atas dasar ketentuan-ketentuan yang bersifat legalistik (makro, meso, mikro) dan profesionalistik (kualifikasi, untuk sumber daya manusia; spesifikasi untuk barang/jasa, dan prosedur-prosedur kerja).
Dari pengertian diatas dapat dirangkum bahwa “manajemen berbasis sekolah” adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya yang dilakukan secara otonomis (mandiri) oleh sekolah melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan sekolah dalam kerangka pendidikan nasional, dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan (partisipatif)”. Lebih ringkas lagi, manajemen berbasis sekolah dapat dirumuskan sebagai berikut (David, 1989): manajemen berbasis sekolah = otonomi manajemen sekolah + pengambilan keputusan partisipatif.
Model manajemen berbasis sekolah pada dasarnya ditampilkan menurut pendekatan sistem (berfikir sistem), yaitu output-proses-input. Urutan ini dipilih dengan alasan bahwa setiap kegiatan sekolah akan dilakukan, termasuk kegiatan melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat), semestinya dimulai dari “output” yang akan dicapai, kemudian ke “proses”, dan baru ke “input” yang dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Langkah-langkah pemecahan persoalannya ditempuh dengan mengikuti urutan yang berlawanan dengan arah analisis SWOT.
Manajemen berbasis sekolah pada umumnya memiliki ciri-ciri universal, sehingga setiap sekolah yang akan mengadopsi model ini perlu mengadaptasikannya / menyesuaikannya dengan karakteristik sekolah masing-masing. Otonomi daerah ini memberi payung hukum dalam pengelolaan pendidikan merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para personil dengan partisipasi langsung pihak-pihak terkait dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

B.     Landasan Programatik MBS
·      Kepala sekolah dan guru-guru adalah tenaga profesional yang memiliki keahlian khusus dan pengalaman profesional dalam penyelenggaraan sekolah dan pembelajaran. Kapasitas profesional dan proses validasi empirik merupakan esensi otonomi profesional.
·      Tenaga profesional di sekolah adalah orang-orang yang memiliki kewenangan otonomi profesional yang  juga mengandung makna kemampuan menterjemahkan kebijakan pemerintah (standar-standar) dan ketentuan lainnya sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak didik dan stakeholder lainnya
·      Sekolah adalah sistem sosial yang harus ditumbuh- kembangkan melalui proses “self-renewal capacity” untuk merespon tuntutan stakeholders atas mutu pendidikan,dan perubahan lingkungan yang terus-menerus terjadi.
·       Perumusan kebijakan, pembuatan keputusan, dan pemecahan masalah di sekolah akan efektif jika dilakukan oleh fihak/orang-orang yang memiliki keahlian, berkepentingan dan berkecimpung/terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan itu sehari-hari.

C.     Pemimpin dan Kepemimpinan
Sekilas antara pemimpin dan kepemimpinan mengandung pengertian yang sama, padahal berbeda. Pemimpin adalah orang yang tugasnya memimpin, sedang kepemimpinan adalah bakat dan atau sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin.
Kepemimpinan adalah kekuasaan untuk mempengaruhi seseorang, baik dalam mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu, bawahan dipimpin dari bukan dengan jalan menyuruh atau mondorong dari belakang. Masalah yang selalu terdapat dalam membahas fungsi kepemimpinan adalah hubungan yang melembaga antara pemimpin dengan yang dipimpin menurut rules of the game yang telah disepakati bersama.
Kepemimpinan membutuhkan penggunaan kemampuan secara aktif untuk mempengaruhi pihak lain dan dalam wujudkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan lebih dahulu. Seseorang pemimpin selalu melayani bawahannya lebih baik dari bawahannya tersebut melayani dia. Pemimpin memadukan kebutuhan dari bawahannya dengan kebutuhan organisasi dan kebutuhan masyarakat secara keseluruhannya.
Dalam organisasi pemimpin dibagi dalam tiga tingkatan yang tergabung dalam kelompok anggota-anggota manajemen (manajement members). Ketiga tingkatan tersebut adalah :
a.Manager puncak (Top Manager)
b.Manajer menengah (Middle manager)
c. Manajer bawahan (Lower managor/suvervisor)

Seorang pemimpin mempunyai keterampilan manajemen (managerial skill) maupun keterampilan tekhnis (technical skill). Semakin rendah kedudukan seorang tekhnis pemimpin dalam organisasi maka keterampilan lebih menonjol dibandingkan dengan keterampilan manajemen. Hal ini disebabkan karena aktivitas yang bersifat operasional.
Bertambah tinggi kedudukan seorang pemimpin dalam organisasi maka semakin menonjol keterampilan manajemen dan aktivitas yang dijalankan adalah aktivitas bersifat konsepsional. Dengan perkataan lain semakin tinggi kedudukan seorang pamimpin dalam organisasi maka semakin dituntut dari padanya kemampuan berfikir secara konsepsional strategis dan makro.

D. Teori Kepemimpinan Dalam Implementasi MBS
Kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam manajemen berbasis sekolah. Kepemimpinan berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi yang kondusif. Prilaku kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat dan penuh pertimbangan terhadap guru baik secara individu maupun sebagai kelompok (Mulyasa, 2003: 107). 
Kepala sekolah sebagai pimpinan di lingkungan sekolah tidak hanya wajib melaksanakan tugas administratif. Namun juga menyangkut tugas bagaimana mengatur seluruh program sekolah. Dia harus mampu memimpin dan mengarahkan aspek-aspek baik administratif maupun proses kependidikan di sekolahnya. Sehingga kepemimpinan di sekolah harus digerakkan sedemikian rupa sehingga pengaruh prilakunya sebagai orang yang memegang kunci dalam perbaikan administratif dan pengajaran harus mampu menggerakkan kegiatan-kegiatan dalam rangka inovasi di bidang pengajaran.
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah dapat mewujudkan misi dan visi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Maka dari itu kepala sekolah dituntut untuk memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.
Beberapa teori telah dikemukakan para ahli majemen mengenai timbulnya seorang pemimpin. Teori yang satu berbeda dengan teori yang lainnya.
Di antara berbagai teori mengenai lahirnya paling pemimpin ada tiga di antaranya yangpaling menonjol yaitu sebagai berikut :
1.      Teori Genetie Inti dari teori ini tersimpul dalam mengadakan “leaders are born and not made”. bahwa penganut teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin akan karena ia telah dilahirkan dengan bakat pemimpin.Dalam keadaan bagaimana pun seorang ditempatkan pada suatu waktu ia akn menjadi pemimpin karena ia dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah menetapkan ia menjadi pemimpin.
2.      Teori Sosial Jika teori genetis mengatakan bahwa “leaders are born and not made”, make penganut-penganut sosial mengatakan sebaliknya yaitu :
“Leadersare made and not born”. Penganut-penganut teori ini berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.
3.      Teori Ekologis Teori ini merupakan penyempurnaan dari kedua teori genetis dan teori sosial. Penganut-ponganut teori ini berpendapat bahwa seseorang hanya dapat menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat mana kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pangalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya itu.

Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori genetis dan teori sosial dan dapat dikatakan teori yang paling baik dari teori-teori kepemimpinan.Namun demikian penyelidikan yang jauh yang lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang timbul sebagai pemimpin yang baik.
Pada umumnya para pemimpin dalam setiap organisasi dapat diklasifikasikan menjadi lima type utama yaitu sebagai berikut :
1.      Tipe pemimpin otokratis
2.      Tipe pemimpin militoristis
3.      Tipe pemimpin paternalistis
4.      Tipe pemimpin karismatis
5.      Tipe pemimpin demokratis
1. Tipe pemimpin demokratis
Tipe pemimpin ini menganggap bahwa pemimpin adalah merupakan suatu hak. Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai berikut :
a.       Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi
b.      Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
c.       Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata-mata
d.      Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain karena dia menganggap dialah yang paling benar.
e.       Selalu bergantung pada kekuasaan formal
f.        Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan pendekatan (Approach) yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.

Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe mimpinan otokratis tersebut di atas dapat diketahui bahwa tipe ini tidak menghargai hak-hak dari manusia, karena tipe ini tidak dapat dipakai dalam organisasi modern.

2. Tipe kepemimpinan militeristis
Perlu diparhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan seorang pemimpin tipe militeristis tidak sama dengan pemimpin-pemimpin dalam organisasi militer. Artinya tidak semua pemimpin dalam militer adalah bertipe militeristis.
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a.       Dalam menggerakkan bawahan untuk yang telah ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama.
b.      Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya.
c.       Senang kepada formalitas yang berlebihan
d.      Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan
e.       Tidak mau menerima kritik dari bawahan
f.        Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe pemimpin militeristis jelaslah bahwa ripe pemimpin seperti ini bukan merupakan pemimpin yang ideal.

3.        Tipe pemimpin fathernalistis
Tipe kepemimpinan fathornalistis, mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal atau kepakan.ke Pemimpin seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapaan dalam menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil.
Sifat-sifat umum dari tipe pemimpin paternalistis dapat dikemukakan sebagai berikut:
a)      Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.
b)      Bersikap terlalu melindungi bawahan
c)      Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. Karena itu jarang dan pelimpahan wewenang.
d)      Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya tuk mengembangkan inisyatif daya kreasi.
e)      Sering menganggap dirinya maha tau.
Harus diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat diporlukan. Akan tetapi ditinjau dari segi sifar-sifar negatifnya pemimpin faternalistis kurang menunjukkan elemen kontinuitas terhadap organisasi yang dipimpinnya.

4.        Tipe kepemimpinan karismatis
Sampai saat ini para ahli manajemen belum berhasil menamukan sebab-sebab mengapa seorang pemimin memiliki karisma. Yang diketahui ialah tipe pemimpin seperti ini mampunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini, pengetahuan tentang faktor penyebab Karena kurangnya seorang pemimpin yang karismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers), perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur, kesehatan profil pendidikan dan sebagainya. Tidak dapat digunakan sebagai kriteria tipe pemimpin karismatis.

5.        Tipe Kepemimpinan Demokratis
Dari semua tipe kepemimpinan yang ada, tipe kepemimpinan demokratis dianggap adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.
a)    Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut:
Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
b)    Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.
c)    Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
d)    Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
e)    Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan. Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses dan berusaha mengembangkan kapasitas diri.





BAB III
KESIMPULAN

1.      Kepala sekolah merupakan kunci bagi pengembangan dan peningkatan mutu sekolah. Kepala sekolah dalam organisasi sekolah berfungsi dan bertugas sebagai leader, educator, manajer, administrator, dan supervisor.
2.      Model manajemen berbasis sekolah pada dasarnya ditampilkan menurut pendekatan sistem (berfikir sistem), yaitu output-proses-input.
3.      Proses manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengontrolan, dan pengendalian.
4.      Tugas yang diemban kepala sekolah ada dua, yaitu sebagai seorang pemimpin dan manejer.
5.      Organisasi belajar sebagai suatu disiplin untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam organisasi yang dikenal dengan The Fifth Dicipline sebagai berikut: 1) Berpikir Sistem (Systems Thinking), 2) Penguasaan Pribadi (Personal Mastery), 3) Pola Mental (Mental Models), 4) Visi Bersama (Shared Vision), 5) Belajar Beregu (Team Learning).














DAFTAR PUSTAKA

Miarso, Yusufhadi.  2004.  Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.  Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Moeljono, Djokosantoso, 2003. 12 Konsep Kepemimpinan, Elex Media Komputindo Gramedia, Jakarta.
Senge, Peter M .1996. Fifth Discipline. Binarupa Aksara. Edisi Bahasa Indonesia
Suyanto.  2007.  Kepemimpinan Kepala Sekolah
http://groups.yahoo.com. Diakses tanggal 24 Oktober 2008
Zamroni. 2000.  Paradigma Pendidikan Masa Depan.  Biggraf.  Yogyakarta
Zikwan. 2009. Tugas Proposal Penelitian Kualitatif. Copyreg Tugas Unila. Bandar Lampung.
http://schooldevelopment.net/indexi.html diakses tanggal 03 juni 2011

SEVERAL METHODS TO IMPROVE ENGLISH SPEAKING SKILL

SEVERAL METHODS TO IMPROVE ENGLISH SPEAKING SKILL
   a partial fulfilment of the requirements for Literary and Linguistic Research Method class


















By :
DIAN CHOIRUNA MAHARANI
09204625



ENGLISH EDUCATION STUDY PROGRAM
FACULTY OF TEACHER TRAINING AND EDUCATION
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2011
TABLE OF CONTENTS

TITLE............................................................………………………………………..... i
TABLE OF CONTENTS.............................……………………………………..................  ii
ABSTRACT......................................................……………………………………..... iii
I.    Introduction ....................................................…………………………………….. 1
II.  Speaking to make a communication with others…………………………………….  2
III. The origin of speaking ................................………………………………………... 2
IV. Study methods of Student ...............………………………………………………… 3
V.   Song to improve the mind to remember .......………………………………………… 4
VI.  Improving speaking skill in a formal school …………………………………………  6
VII. Conclusion and suggestion …………………………………………........................ 8
VIII. Refference .............................…………………………………………………………. 11












                                     

                                                      






SEVERAL METHODS TO IMPROVE ENGLISH SPEAKING SKILL
By :
DIAN CHOIRUNA MAHARANI
09204625

ABSTRACT

The writer write this article is to give a little material to a lot af people that they are need a methods to progress theirachievement. In this paper not only they are in old people but from child until the oldest human has a differential method to study speaking well.
This method is very simplify, because it come from a habitual action in daily activity and write that into an article in this material. The main point, this research not only from the reality life, but also from some book and some material and article in website.
The finding of this paper show that every people who are study speaking especially in english, should have a good method. Although the method is onlya simple one, but image can give an imagine to they are watching this.


















I. Introduction
Many people make interaction with other people by speaking. We can get many materials by speaking. In other side, people has some problems about speaking english as a second language or foreign language.How can we make speaking become easy, its according our skill. We can improve our skill is by media or tools. Especially for the under age and young man.
For some form like a cube, rectangular, round, etc, we will make an aeroplane picture by puzzle that. And the processes are by singing the form one by one. It can improve their skill in speaking in under 10 years old. For the people who are in up to 10 years they can use song too. But its only to make their imagine ru well. However the most important is an expression. Improving speaking of students make the students better to speak with others and make them smooth talking. There are some tips to increase speaking follow the age and grade.
Dealing with such a phenomenon, this article shows several methods  to improve english  speaking skill.

II. Speaking to make a communicaton with others

As everybody knows that the communication is a process whereby information is enclosed in a package and imparted by a sender to a receiver via some medium. Communication requires that all parties have an area of communicative commonality. There are verbal means using language and there are non verbal means, such as body language, sign language, paralanguage, and eye contact, through media, i.e., pictures, grapics and sound, and writing.In here, we will project with a form, in this case is in picture. We believe that the picture is media, which teach by an imagine to help the memorize especially in speking. Sometime in order to remember a new vocabulary word you need to tie it to something that will help you recall it
A trick used by ancient and medievel scholars is to invent some strange or unusual picture, a pun some oddball phrase in english, a popular song, anything. The more bizarre the better. When you need to recall that word, very often you can use the picture or wordplay or whatever you’ve mentally attached to that word as a way to access it. With a little practice, it’s remarkable how effectively you can use this this technique to recall otherwise unfamiliar words. Gradually, you’ll learn to remember the new words without the need to use the memory aid.
After that Poeple can make a conversation with other  using that methods that the trinin is not difficult. Accoding to Badudu ( 1983 : 38 ) the forms of language variety used in printed language are as follows

III. The origin of Speaking
Speech is researched in terms of the speech production and speech perception of the sounds used in spoken language. Other research topics concern speech repetition, the ability to map heard spoken words into the vocalizations needed to recreated that plays a key role in the vocabulary expansion in children and speech errors. Several academic disciplines study these including acoustics, psychology, speech pathology, linguistics, cognitive science, communication studies, otolaryngology and computer science. Another area of research is how the human brain in its different areas such as the Broca's area and Wernicke's area underlies speech. English has become the common international language. The language is seldom used to communicate when two people are no native speakers of the same language. Communication is the first thing that we can do since childhood.     Speaking is a part of people’s daily lives. They help assessment developers form a clear understanding of what it means to be able to speak a language and then transfer this understanding to the design of task and rating criteria ( Wardaugh.1976 : 29 ).
When people hear someone speak, they pay attention to what the speaker sounds like almost automatically. As speakers, consciously or unconsciously, people use their speech to create an image of themselves to others. By using speed and pausing, and variations in pitch, volume, and intonation, they also create a texture for their talk that supports and enhances what they are saying.The sound of speech is a thorny issue for language assessment, however. This is first of all because people tend to judge native/non native speakers status on the basis of pronunciation.
The native speaker standard for foreign language pronunciation is questioned on two main accounts. Firstly, in today’s world, it’s difficult to determine which single standard would suffice as the native speaker standard for any language, particularly so for widely used languages. Secondly, as research into learner language has progressed, it has become clear that, although vast numbers of language learners learn to pronounce in a fully comprehensible and efficient manner, very few learners are capable of achieving a native-like standard in all respect (Hudson 1999 : 9).


IV. Study methods of student

            The Effortless English method refers to the specific teaching techniques we use. These techniques were developed from the top teachers and researchers in the world. The Effortless English Teaching System uses techniques developed by Dr. James Asher, Dr. Stephen Krashen, Blaine Ray, Tony Robbins, Dr. Ashley Hastings, and Dr. Brenda Murphy.
The Effortless English System is designed for one thing- to make you an outstanding English speaker. At Effortless English, our entire focus is on speaking English easily and quickly. The Effortless English System uses 7 specific techniques to teach English fast. These 7 techniques, or “rules”, are discussed in our “7 Rules Email Course”. The email course discusses all 7 techniques, but Iʼd like to discuss a couple in more detail. Perhaps the most important technique in the Effortless English Teaching System is that students learn with their ears (not with their eyes). To speak excellent English, you must learn with your ears. Too many students attempt to learn English with their eyes. Students often read textbooks, study vocabulary books, and study grammar books. They also do exercises in workbooks and test preparation books. However, none of these activities will improve your speaking. You will not improve your speaking by learning with your eyes. Therefore, the Effortless English Teaching System primarily uses audio lessons. With our system, you learn with your ears. You learn vocabulary by listening.
You learn grammar by listening. You learn pronunciation by listening. You improve your English speaking by listening. This is the number one technique of our system and the most important for you to remember: focus most of your study time on listening to English. Mini Story Lessons are another very powerful technique. In the Effortless English System, mini story lessons are the most important. These are the most powerful English lessons you will every use ( The effortless english club : 2007 ; 8 )




V. Song to improve the mind to remember
Some picture is to drive the imagine. The form is to upgrade the cretivity of the student ( US Application 2004 -2011 ) .We will practice that in here.
Form a elips form.








              A little square




              A Triangle






              Line curve


                                                
paralellogram





              Flowchart



After the student has some of the forms, the next step is to puzzle it to an aeroplane picture
The rule of puzzle has many steps they are :
First, enter the elips one, after that give the line curve in the end of elips, next give the little square in the middle of the elips, and then give the triangle below the elips, paralellogram in behind the picture and the last is the flowchart under the triangle.



















The last step si make a review from the process. They should make a liric basic the form.
for example :
I have an elips, and I have a square
Line curve triangle wait for puzzling
The Paralellogram and the flow chart
I will make a plane.

The student show their creativity and a skill to review the process to make a puzzle picture from the forms. Te method is match in under 15 years old.

VI. Improving Speaking Skills in a formal school

Students often think that the ability to speak a language is the product of language learning, but speaking is also a crucial part of the language learning process. Effective instructors teach students speaking strategies using minimal responses, recognizing scripts, and using language to talk about language that they can use to help themselves expand their knowledge of the language and their confidence in using it. These instructors help students learn to speak so that the students can use speaking to learn (The National Capital Language Resource Center, Washington, DC © 2003 – 2004 ).

1. Using minimal responses

Language learners who lack confidence in their ability to participate successfully in oral interaction often listen in silence while others do the talking. One way to encourage such learners to begin to participate is to help them build up a stock of minimal responses that they can use in different types of exchanges. Such responses can be especially useful for beginners.
Minimal responses are predictable, often idiomatic phrases that conversation participants use to indicate understanding, agreement, doubt, and other responses to what another speaker is saying. Having a stock of such responses enables a learner to focus on what the other participant is saying, without having to simultaneously plan a response.
2. Recognizing scripts
Some communication situations are associated with a predictable set of spoken exchanges a script. Greetings, apologies, compliments, invitations, and other functions that are influenced by social and cultural norms often follow patterns or scripts. So do the transactional exchanges involved in activities such as obtaining information and making a purchase. In these scripts, the relationship between a speaker's turn and the one that follows it can often be anticipated.
Instructors can help students develop speaking ability by making them aware of the scripts for different situations so that they can predict what they will hear and what they will need to say in response. Through interactive activities, instructors can give students practice in managing and varying the language that different scripts contain.
3. Using language to talk about language
Language learners are often too embarrassed or shy to say anything when they do not understand another speaker or when they realize that a conversation partner has not understood them. Instructors can help students overcome this reticence by assuring them that misunderstanding and the need for clarification can occur in any type of interaction, whatever the participants' language skill levels. Instructors can also give students strategies and phrases to use for clarification and comprehension check.
By encouraging students to use clarification phrases in class when misunderstanding occurs, and by responding positively when they do, instructors can create an authentic practice environment within the classroom itself. As they develop control of various clarification strategies, students will gain confidence in their ability to manage the various communication situations that they may encounter outside the classroom.


VII. Coclussion and Suggestion
After finishing the work about speaking, the writer would like to draw a conclussion and suggestion dealing with this paper.
1.Conclusion
                        From the previous reading, a conclusion can be drawn as follows teh variety of the methods. More function of speaking can be improve from many methods. Some factors influencing the presence of language in all of people are a distinguish for every period. The most important of this presence in a main factors to be a great speaker that have great talent. It is universal that all of people should have a methods to improve their own speaking skill.
                        2. Suggestion
                        From the result of this writing, the writer tries to provide suggestion to the first is reader. Theoretically this analysis is expected to enrich the knowledge of the reader especially to realize about the improving speaking skill.










VIII. References

Badudu, J.S.1983. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka prima
Hudson, R.A. 1999 Sociolinguistic second Edition.United Kingdom: Cambridge.
University Press.

The National Capital Language Resource Center, Washington, DC © 2003 – 2004 .

Wardaugh,R. 1976. The contexts of language. Massachusetts : New Bury House Publishers Inc.

Homepage :
The effortless english club.2007. Take in January 2011
US Application 2004 -2011 .Take in January 2011